Oleh: DR. Hidayat Nurwahid
Bismillahirrahmanirrahim
Rekan Blogger yang saya hormati,
Assalamu’alaikum wr. wb
Dalam satu bulan ke depan, satu bulan Ramadhan ini kita bersama-sama saling bertadarus, saling memberikan masukan, saling mengingatkan agar Ramadhan kita kali ini adalah Ramadhan yang sungguh-sungguh memberikan pada kita satu pencerahan, untuk menghadirkan taqwa yang sebenarnya. Yaitu bukan sekedar ungkapan yang kita ungkapkan waktu menjelang pelantikan pejabat-pejabat tertentu atau kita ungkapkan dalam konteks yang klise, dalam konteks khutbah-khutbah saja, atau pengajian-pengajian saja, tapi suatu ungkapan taqwa yang merupakan tujuan dari berpuasa yang membawa kepada hadirnya manusia yang utama.
Rekan Blogger yang saya hormati, berpuasa di bulan Ramadhan memang adalah bukan sesuatu yang sama sekali baru. Mungkin anda telah melakukan ibadah puasa untuk yang ke-10 kalinya, atau bahkan ke-20 kali, atau mungkin ke-30 kalinya atau bahkan lebih, sesuai dengan umur anda dan sesuai dengan kapan anda memulai ibadah puasa itu sendiri. Tapi jelas sekali, kalau kita kemudian semuanya melakukan evalusi terhadap perilaku berpuasa kita selama ini dan kemudian kita ukur dengan apa yang terjadi di masyarakat, kita akan merasa penting untuk kemudian selalu meningkatan kualitas ibadah berpuasa kita. Sebab mestinya, sebagaimana shalat, puasa menghadirkan taqwa, shalat menjauhkan diri dari fahsya’ dan munkar, tapi kita lihat bagaimana di luar diri kita, mungkin pun bahkan dalam sebagian diri kita, perilaku yang munkar, perilaku yang penuh dengan kekejian, perilaku yang tidak sesuai dengan taqwa ternyata masih berlaku juga.
Hari ini kita mulai berpuasa. Tentu kita menghadirkannya dengan semangat untuk menghadirkan puasa yang lebih baik daripada tahun yang lalu. Kita bisa membuat satu grafik bagaimana dahulu puasa kita, dimana letak kurangnya, dimana letak yang sudah baiknya, kemudian bisa kita hadirkan sebuah grafik yang baru untuk kemudian kita jadikan suatu program ke depan. Mana yang sudah baik pada tahun yang lalu kita lanjutkan. Mana yang belum sukses pada tahun yang lalu kita hadirkan untuk jadi sukses pada tahun yang ini. Dan mana yang sudah baik, mana yang kurang baik pada tahun yang lalu, kita koreksi, kita rubah menjadi satu hal yang baik.
Darimana itu harus dimulai? itu harus dimulai dengan motivasi kita, dengan niat kita. Dan itulah memang satu ungkapan yang Rasulullah pernah sampaikan menjadi ungkapan awal ketika beliau sampai ke Madinah merubah masyarakat yang tadinya penuh dengan krisis, masyarakat yang penuh dengan konflik, masyarakat yang penuh dengan keterbelakangan, masyarakat yang tidak rukun, masyarakat yang tidak akur, oleh Rasulullah dirubah menjadi masyarakat yang baru, masyarakat yang penuh dengan harmoni, masyarakat yang taat hukum, masyarakat yang mementingkan etika, masyarakat yang mampu menghadirkan solusi untuk problema yang menghantui mereka, yaitu problema ekonomi, problema sosial, problema hubungan antar suku, problema hubungan antar agama, itu semuanya diperbaiki oleh Rasulullah dengan suatu tekad utama, yaitu dengan niat yang luhur. Innamal a’malu bin niyat fa innama likulli syai’in manawa wa makana …
Sesungguhnya setiap kegiatan kita sangat diukur dengan bagaimana motivasi yang muncul untuk kegiatan itu. Dan Rasulullah menyampaikan, siapapun yang kemudian berhijrah karena motivasi, niatnya adalah untuk Allah dan untuk Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan hal itu. Tapi siapapun kemudian yang hijrahnya, perilakunya, ibadahnya hanya untuk kepentingan duniawi atau untuk bahkan sekedar untuk mendapatkan jodoh, maka ia akan mendapatkannya. Tetapi ia hanya sebatas itu saja, tidak ada dampak-dampak yang lebih daripada batas materi atau batas popularitas semacam itu.
Jadi, Rekan Blogger yang saya hormati, motivasi adalah hal yang sangat dipentingkan. Dan anda pasti sangat mengetahui bahwa dalam seluruh kegiatan profesional anda, pasti faktor motivasi adalah faktor yang sangat penting, sangat dominan, sangat menentukan. Karena tidaklah mungkin kita bisa menghadirkan satu karya, satu karsa, satu produktivitas yang lebih baik kalau motivasi kita justru menurun. Tidaklah mungkin kita bisa menghadirkan realisasi dari program kita kalau motivasi kita tidak fokus, apalagi kalau kita tidak punya motivasi. Mungkin sebentar lagi perusahaan kita akan bangkrut dan kita menjadi bagian dari yang memperparah kehidupan profesi kita, kehidupan bisnis kita, kehidupan sosial kita, kehidupan bernegara kita. Itulah karenanya, sekali lagi, sangat dipentingkan di awal kita memasuki bulan Ramadhan ini untuk mengingat hadis tadi itu.
Kita semuanya pasti kemudian sepakat bahwa motivasi itu sangat penting. Niat sangat penting dan kita membacanya baik secara terbuka, dengan didzaharkan, maupun dengan dalam hati kita. Kita akan baca niat itu pada malam hari atau pada pagi hari sebelum sahur. Tapi ada hal yang sangat penting, sebagaimana pernah dinyatakan oleh para sahabat bahwa kebaikan-kebaikan untuk menyadari tentang pentingnya niat adalah sesuatu yang kemudian harus dibiasakan. Abdullah Ibnu Mas’ud r.a pernah mengatakan “Ta’awadu khaira, fainnal khaira bil ad”. Biasakanlah diri anda untuk menghadirkan kebaikan, biasakanlah diri anda untuk melaksanakan kebaikan, termasuk melaksanakan motivasi itu sebab untuk menghadirkan kebaikan juga memang memerlukan pembiasaan.
Karenanya, tidak aneh, Rekan Blogger, kalau kemudian kita dapatkan bahwa kita sering diingatkan untuk mengulangi niat itu. Maksudnya adalah untuk membiasakan diri untuk menghadirkan motivasi yang kuat. Sehingga ibadah puasa yang memang sangat unggulan, sangat penting itu menjadi suatu yang kita rasakan menjadi sesuatu yang penting juga. Kenapa begitu? karena kita selalu mengadakan motivasi. Ketika kita punya motivasi, kita mempunyai pemahaman bahwa sesuatu yang akan kita kerjakan adalah sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang amat sangat berharga. Dan itu terkait dengan tamu agung kita, Ramadhan. Setiap hari kita akan bertemu dengan tamu, mungkin kita punya tamu untuk perusahaan kita, tamu untuk rumah kita, mungkin bahkan tamu pejabat negara , kita pasti kemudian termotivasi untuk menghormati mereka kita mungkin membersihkan diri, membersihkan ruangan bahkan mungkin menghadirkan makanan-makanan yang tidak biasa, kita menyibukkan diri untuk menghormati tamu agung kita. Dan sekali ini, tamu agung ini adalah sungguh-sungguh tamu yang sangat agung, karena kegungannya dinyatakan dalam Al Qur’an, keagungannya dinyatakan oleh Rasulullah, itulah bulan puasa. Selayaknya bila kalau tamu biasa kita menghormatinya, tamu agung ini kita menghormatinya secara lebih spesifik lagi, secara lebih baik lagi, secara lebih terhormat lagi. Dan itu baru akan terlaksana kalau kita punya motivasi yang kuat, kita memahami bahwa motivasi itu harus hadir dan itulah motivasi mengisi bulan Ramadhan.
Rekan Blogger yang saya hormati, selamat mengisi bulan Ramadhan. Hari-hari anda masih akan sangat panjang. Tetapi hari yang sangat panjang itu adalah hari yang akan memberikan kepada anda sepenuhnya peluang untuk menjadi manusia yang utama merealisasikan taqwa sebagai bagian dari tujuan utama dari berpuasa. Dan sekali lagi, sebagaimana capaian-capaian besar apapun, program besar apapun tidak akan terlaksana bila tidak dibarengi dengan motivasi yang kuat untuk mensukseskan realisasi dari program-program besar itu. Selamat melaksanakan ibadah puasa. Dengan motivasi yang kuat, insyaallah kita bisa merealisasikan nilai taqwa menjadi manusia yang utama.
Assalamualaikum wr.wb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar