28 Agustus 2009

Ramadhan Hari Pertama




Sabtu, 22 Agustus 2009 (1 Ramadhan 1430)

Alhamdulillah, ketemu ramadhan lagi, terima kasih ya Allah atas kesempatan yang telah Engkau berikan ini, semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, ami..........n. Dan saya sangat bersyukur karena ramadhan hari pertama ini bertepatan dengan waktu libur kerja, sehingga bisa memantau perkembangan puasa kedua anak saya.

Setiap memulai sesuatu, pasti awal2nya yang paling berat untuk memulai, kegiatan apa saja tak terkecuali memulai berpuasa, apalagi kalau puasanya dilakukan oleh anak2, begitu juga dengan kedua anak saya. Azzam sekarang sudah kelas III SD and adiknya Zidan masih TK, tapi saya berusaha membiasakan anak2 saya untuk berpuasa, walaupun saya tahu pasti itu amat sangat berat dilakukan oleh anak2 seusia anak saya. Orang dewasa saja berat melaksanakannya apalagi anak2. Ada istilah “tidak akan mati orang yang puasa karena kelaparan”, hal inilah yang saya terapkan ke anak2 saya ketika menjalankan puasa, karena saya yakin pasti sangat amat banyak manfaatnya setiap perintah yang datang dari Allah SWT, begitu juga dengan puasa di bulan Ramadhan. Tega ga’ tega juga sih melihat anak2 kita nahan lapar, apalagi anak saya zidan masih usia 5 tahun, tapi kalau ga’ dimulai dari kecil kapan lagi.....?he3.......bukannya ekstrem tapi berusaha untuk mencoba kebiasaan baik sejak dini........he3.........

Dan benar saja puasa itu emang berat dihari pertama, apalagi untuk anak2 seusia anak2 saya, pas kira2 jam 14.30 anak saya zidan sudah uring2an, biasa ngambek, minta dipijitin kakinya, habis dipijitin minta dikipasin (maklum ga’ ada AC) terus minta diusap2 perutnya, dia belum bilang ke kita dia laper.......jaim juga kali ya....dalam hati saya sudah menduga pasti di ga’ tahan minta makan........lalu saya bujuk untuk tidur, tetep ga’ mau tidur, dilanjutkan sama isteri saya yang ngebujuk biar anteng, tetep aja terus merengek....dikipasin salah, dipijitin salah, diusap2 perutnya salah.......bingung juga saya, akhirnya anak saya Zidan terus terang dia laper minta makan, tapi terus saya and isteri saya berusaha membujuk untuk terus puasa, akhirnya anak saya Zidan ketiduran sampai jam 17.00 dan sudah tidak ngambek lagi tapi kelihatan lemes banget........(laper sih), setelah itu saya mandikan and pakein baju, habis pakae baju tidur lagi, akhirnya Zidan bangun menjelang buka puasa, itupun dibangunin sama ponakan saya agung, senengnya dia pas dia bangun banyak saudaranya yang lain karena kebetulan secara mendadak kakak ipar saya mau buka bersama dirumah.......Alhamdulillah jadi penghibur anak saya Zidan..sedangkan Azzam kakaknya keluar keringet dingin menjelang buka puasa, banyak banget keringetnya saking nahan lapernya and semua itu terlewati setelah azan berkumandang di TV yang kita stel.......

Alhamdulillah ujian puasa pertama telah terlewati, semoga kedua anak saya menjadi anak yang sholeh, pintar and berbakti kepada kedua orangtuanya dan berguna bagi bangsa dan negara ami..........n.

oleh: Amin Nullah

27 Agustus 2009

kedahsyatan sedekah



Sumber: Ady.SUPRATIKTO@total.com

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saudaraku....,

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Alloh yang bersedekah?

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Alloh SWT menciptakan Bumi, maka Bumi pun bergetar.

Lalu Alloh pun menciptkana Gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata Bumi pun terdiam.

Para Malaikat kemudian bertanya kepada Alloh:

"Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada Gunung?

" Alloh menjawab, "Ada, yaitu Besi"

(Kita mafhum bahwa Gunung Batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh Buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari Besi).

Para Malaikat pun kembali bertanya,

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada Besi?"

Alloh yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu Api"

(Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara Api).

Bertanya kembali para Malaikat,

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada Api?"

Alloh yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu Air"

(Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh Air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari Air?"

Kembali bertanya para Malaikat.

Alloh yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin"

(Air di Samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para Malaikat pun bertanya lagi, "Ya Alloh adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Alloh yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

(Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Alloh berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas.

Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya.

Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan.

Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Saudaraku........,

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas?

Ada suatu kisah sebagai berikut:

Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya.

Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya.

Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya.

Seluruh penumpang mengalami luka berat.

Bahkan para penumpang yang duduk di kursi-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah.

Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun.

Mereka itu, ya kedua akhwat itulah.

Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Alloh selamat tidak kurang suatu apa?

Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

Kemudian ada cerita lagi:

Ada suatu keluarga yang ketika itu mempunyai anak laki-laki yang sudah berumur 2,5 tahun yang belum bisa berbicara.

Anak tersebut saat itu sudah berjalan 5 bulan dalam perawatan terapi wicara disuatu rumah sakit yang ditangani oleh ahlinya.

Ketika terjadi gempa di DIY, orang tuanya sesuai dengan kemampuannya selalu tergerak hatinya untuk bersedekah yaitu membantu korban bencana.

Saat itu keluarga tersebut berd'oa kepada Alloh:

Ya Alloh, kami ingin mengajak keluarga kami untuk bersedekah membantu korban bencana DIY sesuai dengan kemampuan keluarga kami, untuk itu mudahkanlah anak kami yang sudah 2,5 tahun bisa berbicara.

Kemudian keluarga tersebut tinggal bersama pengungsi dan membantu korban bencana (pengungsi) serta tidak lupa meminta dido'akan para pengungsi tersebut agar anaknya yang berumur 2.5 tahun dapat berbicara.

Selama 1 pekan keluarga tersebut tinggal bersama pengungsi dan kemudian kembali ke asalnya.

Tiba-tiba, satu hari setelah kembali di rumah tempat tinggalnya, anak yang berumur 2.5 tahun tersebut memanggil orang tua, abi... dan umi.... kemudian dilanjutkan dengan kata-kata lainnya.

Masya Alloh, mendengar anaknya bisa berbicara, orang tuanya langsung sujud syukur kepada Alloh.

Esoknya anak tersebut diantar ke rumah sakit untuk perawatan terapi wicara, dan guru, dokter yang menangani serta pihak rumah sakit memanggil orang tuanya dan menyarankan bahwa terapi wicara sudah tidak perlu dilanjukan, karena anak tersebut sudah bisa berbicara.

Subhanalloh.

Saudaraku.....,

Tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah.

Alloh pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Alloh Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya.

Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, tapi Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita.

Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa.

Demi Alloh, semua ini datangnya dari Alloh yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya.

Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Alloh.

Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat, keluarga anak 2.5 tahun yang tidak bisa bicara ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Alloh SWT dan Rasul-Nya.

Bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah.

Apalagi pada saat itu Alloh menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan

(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah.

Harta milikku hanya delapan ribu dirham.

Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Alloh."

"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan.

"Ya, Rasulullah.

Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham.

Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut?

Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Alloh dan Rasul-Nya.

Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati.

Kendati begitu para sahabat yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka.

Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Alloh yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah?

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; Sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Artinya, Alloh yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat.

Masya Allah! Saudaraku.....,

Betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Alloh yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Alloh sendiri membuat perbandingan seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 261.

Di bulan suci Ramadhan ini.

Saatnya membersihkan diri saudaraku....

Saatnya kita menabung, untuk hari akhirat yang pasti…..

Yaitu mensucikan diri dengan mengeluarkan zakat, Infaq dan Shodaqoh.

Sudahkah anda mengeluarkan sebagian rizki anda untuk zakat, Infaq dan Shodaqoh ?

Hidup di dunia ini adalah semata-mata menjalani ujian demi ujian, baik berupa kesenangan maupun berupa kesedihan.

Senang dan susah datang silih berganti.

Tidak ada manusia yang selama hidupnya senang terus atau susah terus-menerus sepanjang hayat.

Sesekali tersenyum, tertawa, sesekali juga sedih dan menangis.

Manusia seyogyanya sadar bahwa di manapun dia berada, kematian akan selalu mengintai

Semoga bapak\ibu mendapatkan berkah di bulan Ramadhan ini dan mendapatkan rizki melimpah yang halal.

Amin Ya Robbala'lamin.

Bagi bapak ibu yang diberikan rizki harta baik uang maupun benda, segeralah sedekahkan sebagian rizki tersebut kepada sesama.

Bagi bapak ibu yang mempunyai ilmu yang bermanfaat, segerala sedekahkan ilmu yang bermanfaat tersebut kepada sesama.

Bagi bapak ibu yang bisa bersedakah dengan tenaganya, segeralah berikan tenaga tersebut untuk membantu sesama.

Berdo'alah untuk kebaikan umat manusia, Insya Alloh, Alloh akan mengambulkan do'a kita.

Dan perbanyaklah silaturahim dengan siapapun.

Sebarkanlah kabar baik ini ke handai tolan dan masyarakat, Insya Alloh akan bermanfaat bagi sesama.

25 Agustus 2009

Jangan Buka Puasa dengan Gorengan


Sumber: www.detik.com Nurul Ulfah - detikRamadan

Jakarta -Setelah berpuasa seharian, saat berbuka pun menjadi waktu yang sangat dinanti. Menu camilan gorengan biasanya menjadi hidangan yang dipilih setelah menyantap yang manis-manis. Tapi sebaiknya jangan buka puasa dengan gorengan. Mengapa?

Selain karena gorengan adalah makanan yang tidak sehat untuk tubuh, gorengan membawa efek yang tidak baik untuk saluran tenggorokan dan juga saluran pencernaan, terutama mereka yang seharian mengosongkan perutnya.

Makanan yang tinggi lemak akan membuat seseorang rentan terserang batuk dan memperlambat pengosongan lambung. Lemak akan merangsang tenggorokan dan membuatnya gatal sehingga mudah terserang batuk.

Selain itu, dengan adanya lemak, lambung akan cepat terisi tapi lebih lambat dicerna, alhasil seseorang akan merasa sudah kenyang dan tidak akan cepat lapar padahal baru makan dalam porsi sedikit.

Hal ini sebenarnya tidak baik untuk orang yang baru berbuka puasa. Karena setelah 14 jam lambung kosong, tubuh butuh nutrisi yang cukup, tapi dengan adanya lemak tubuh akan merasa sudah kenyang dan akhirnya penyerapan nutrisi pun terhambat karena hanya sedikit nutrisi lainnya yang masuk dalam tubuh.

Selain gorengan, pola berbuka puasa pun sebaiknya diperhatikan karena banyak masyarakat yang masih salah praktik. Mereka yang sudah berbuka dengan yang manis, langsung menyantap makanan besar karena saking laparnya.

Padahal menurut ahli gizi klinik, dr Fiastuti Witjaksono, M.S SpGK sebaiknya perut perlu persiapan untuk bisa menerima makanan dalam keadaan tenang dan tidak terburu-buru.

"Bagusnya makan besar setelah salat Magrib dulu, karena itu akan membantu mempersiapkan saluran pencernaan menghadapi makanan dalam jumlah besar setelah 14 jam kosong," ujar Fiastuti ketika dihubungi detikRamadan, Senin (24/8/2009).

Selain karena memicu perasaan yang tidak nyaman di perut, langsung menyantap makan besar setelah waktu berbuka juga tidak baik untuk penderita maag karena lambungnya akan mengalami shock.

Prinsip berbuka menurut Fiastuti, hendaknya berbuka dengan yang manis untuk mengganti glukosa darah, makanlah sesuai porsi tubuh dan juga harus lengkap gizinya tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan.

"Prinsipnya kan hanya menggeser waktu makan saja, jadi tidak ada yang berubah, yang penting seimbang," ujar dokter yang memiliki menu favorit berbuka puasa dengan setup buah itu.
Selamat berbuka puasa.

21 Agustus 2009

Marhaban Ramadhan


Marhaban ya ramadhan, ungkapan yang begitu indah dan dinanti-nantikan oleh orang-orang yang beriman dan ditangisi setelah kepergiannya. Semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, kemudahan dalam menjalaninya itu harapan kita semua.

Pagi hari ini saya sudah menempel tulisan yang saya print warna plus dilaminating yang ada photo kedua anak saya azzam and zidan yang memang sengaja saya buat dari tahun kemarin untuk menyambut ramadhan tahun ini, hal ini saya kerjakan agar kedua anak saya terkontaminasi dengan suasana penyambutan kedatangan ramadhan ini.

Semoga kita semua mampu menjalaninya. Diterima segala amal ibadah kita dan dihapuskan segala dosa dan kesalahan. Kembali ke fitrah sebagai manusia khalifah di muka bumi.

Saya dan keluarga memohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan khilaf, lisan maupun tulisan, disengaja ataupun tidak. Insya Allah kami juga sudah memaafkan segala ganjalan, berat hati dan kesalahan yang dilakukan kepada kami. Mudah-mudahan kita semua memasuki bulan Ramadhan ini dengan hati bersih, lapang dan ikhlas.

Marhaban ya Ramadhan
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1430 H

18 Agustus 2009

Kuatkan Niat, Isi Ramadan

Oleh: DR. Hidayat Nurwahid

Bismillahirrahmanirrahim

Rekan Blogger yang saya hormati,

Assalamu’alaikum wr. wb

Dalam satu bulan ke depan, satu bulan Ramadhan ini kita bersama-sama saling bertadarus, saling memberikan masukan, saling mengingatkan agar Ramadhan kita kali ini adalah Ramadhan yang sungguh-sungguh memberikan pada kita satu pencerahan, untuk menghadirkan taqwa yang sebenarnya. Yaitu bukan sekedar ungkapan yang kita ungkapkan waktu menjelang pelantikan pejabat-pejabat tertentu atau kita ungkapkan dalam konteks yang klise, dalam konteks khutbah-khutbah saja, atau pengajian-pengajian saja, tapi suatu ungkapan taqwa yang merupakan tujuan dari berpuasa yang membawa kepada hadirnya manusia yang utama.

Rekan Blogger yang saya hormati, berpuasa di bulan Ramadhan memang adalah bukan sesuatu yang sama sekali baru. Mungkin anda telah melakukan ibadah puasa untuk yang ke-10 kalinya, atau bahkan ke-20 kali, atau mungkin ke-30 kalinya atau bahkan lebih, sesuai dengan umur anda dan sesuai dengan kapan anda memulai ibadah puasa itu sendiri. Tapi jelas sekali, kalau kita kemudian semuanya melakukan evalusi terhadap perilaku berpuasa kita selama ini dan kemudian kita ukur dengan apa yang terjadi di masyarakat, kita akan merasa penting untuk kemudian selalu meningkatan kualitas ibadah berpuasa kita. Sebab mestinya, sebagaimana shalat, puasa menghadirkan taqwa, shalat menjauhkan diri dari fahsya’ dan munkar, tapi kita lihat bagaimana di luar diri kita, mungkin pun bahkan dalam sebagian diri kita, perilaku yang munkar, perilaku yang penuh dengan kekejian, perilaku yang tidak sesuai dengan taqwa ternyata masih berlaku juga.

Hari ini kita mulai berpuasa. Tentu kita menghadirkannya dengan semangat untuk menghadirkan puasa yang lebih baik daripada tahun yang lalu. Kita bisa membuat satu grafik bagaimana dahulu puasa kita, dimana letak kurangnya, dimana letak yang sudah baiknya, kemudian bisa kita hadirkan sebuah grafik yang baru untuk kemudian kita jadikan suatu program ke depan. Mana yang sudah baik pada tahun yang lalu kita lanjutkan. Mana yang belum sukses pada tahun yang lalu kita hadirkan untuk jadi sukses pada tahun yang ini. Dan mana yang sudah baik, mana yang kurang baik pada tahun yang lalu, kita koreksi, kita rubah menjadi satu hal yang baik.

Darimana itu harus dimulai? itu harus dimulai dengan motivasi kita, dengan niat kita. Dan itulah memang satu ungkapan yang Rasulullah pernah sampaikan menjadi ungkapan awal ketika beliau sampai ke Madinah merubah masyarakat yang tadinya penuh dengan krisis, masyarakat yang penuh dengan konflik, masyarakat yang penuh dengan keterbelakangan, masyarakat yang tidak rukun, masyarakat yang tidak akur, oleh Rasulullah dirubah menjadi masyarakat yang baru, masyarakat yang penuh dengan harmoni, masyarakat yang taat hukum, masyarakat yang mementingkan etika, masyarakat yang mampu menghadirkan solusi untuk problema yang menghantui mereka, yaitu problema ekonomi, problema sosial, problema hubungan antar suku, problema hubungan antar agama, itu semuanya diperbaiki oleh Rasulullah dengan suatu tekad utama, yaitu dengan niat yang luhur. Innamal a’malu bin niyat fa innama likulli syai’in manawa wa makana …

Sesungguhnya setiap kegiatan kita sangat diukur dengan bagaimana motivasi yang muncul untuk kegiatan itu. Dan Rasulullah menyampaikan, siapapun yang kemudian berhijrah karena motivasi, niatnya adalah untuk Allah dan untuk Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan hal itu. Tapi siapapun kemudian yang hijrahnya, perilakunya, ibadahnya hanya untuk kepentingan duniawi atau untuk bahkan sekedar untuk mendapatkan jodoh, maka ia akan mendapatkannya. Tetapi ia hanya sebatas itu saja, tidak ada dampak-dampak yang lebih daripada batas materi atau batas popularitas semacam itu.

Jadi, Rekan Blogger yang saya hormati, motivasi adalah hal yang sangat dipentingkan. Dan anda pasti sangat mengetahui bahwa dalam seluruh kegiatan profesional anda, pasti faktor motivasi adalah faktor yang sangat penting, sangat dominan, sangat menentukan. Karena tidaklah mungkin kita bisa menghadirkan satu karya, satu karsa, satu produktivitas yang lebih baik kalau motivasi kita justru menurun. Tidaklah mungkin kita bisa menghadirkan realisasi dari program kita kalau motivasi kita tidak fokus, apalagi kalau kita tidak punya motivasi. Mungkin sebentar lagi perusahaan kita akan bangkrut dan kita menjadi bagian dari yang memperparah kehidupan profesi kita, kehidupan bisnis kita, kehidupan sosial kita, kehidupan bernegara kita. Itulah karenanya, sekali lagi, sangat dipentingkan di awal kita memasuki bulan Ramadhan ini untuk mengingat hadis tadi itu.

Kita semuanya pasti kemudian sepakat bahwa motivasi itu sangat penting. Niat sangat penting dan kita membacanya baik secara terbuka, dengan didzaharkan, maupun dengan dalam hati kita. Kita akan baca niat itu pada malam hari atau pada pagi hari sebelum sahur. Tapi ada hal yang sangat penting, sebagaimana pernah dinyatakan oleh para sahabat bahwa kebaikan-kebaikan untuk menyadari tentang pentingnya niat adalah sesuatu yang kemudian harus dibiasakan. Abdullah Ibnu Mas’ud r.a pernah mengatakan “Ta’awadu khaira, fainnal khaira bil ad”. Biasakanlah diri anda untuk menghadirkan kebaikan, biasakanlah diri anda untuk melaksanakan kebaikan, termasuk melaksanakan motivasi itu sebab untuk menghadirkan kebaikan juga memang memerlukan pembiasaan.

Karenanya, tidak aneh, Rekan Blogger, kalau kemudian kita dapatkan bahwa kita sering diingatkan untuk mengulangi niat itu. Maksudnya adalah untuk membiasakan diri untuk menghadirkan motivasi yang kuat. Sehingga ibadah puasa yang memang sangat unggulan, sangat penting itu menjadi suatu yang kita rasakan menjadi sesuatu yang penting juga. Kenapa begitu? karena kita selalu mengadakan motivasi. Ketika kita punya motivasi, kita mempunyai pemahaman bahwa sesuatu yang akan kita kerjakan adalah sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang amat sangat berharga. Dan itu terkait dengan tamu agung kita, Ramadhan. Setiap hari kita akan bertemu dengan tamu, mungkin kita punya tamu untuk perusahaan kita, tamu untuk rumah kita, mungkin bahkan tamu pejabat negara , kita pasti kemudian termotivasi untuk menghormati mereka kita mungkin membersihkan diri, membersihkan ruangan bahkan mungkin menghadirkan makanan-makanan yang tidak biasa, kita menyibukkan diri untuk menghormati tamu agung kita. Dan sekali ini, tamu agung ini adalah sungguh-sungguh tamu yang sangat agung, karena kegungannya dinyatakan dalam Al Qur’an, keagungannya dinyatakan oleh Rasulullah, itulah bulan puasa. Selayaknya bila kalau tamu biasa kita menghormatinya, tamu agung ini kita menghormatinya secara lebih spesifik lagi, secara lebih baik lagi, secara lebih terhormat lagi. Dan itu baru akan terlaksana kalau kita punya motivasi yang kuat, kita memahami bahwa motivasi itu harus hadir dan itulah motivasi mengisi bulan Ramadhan.

Rekan Blogger yang saya hormati, selamat mengisi bulan Ramadhan. Hari-hari anda masih akan sangat panjang. Tetapi hari yang sangat panjang itu adalah hari yang akan memberikan kepada anda sepenuhnya peluang untuk menjadi manusia yang utama merealisasikan taqwa sebagai bagian dari tujuan utama dari berpuasa. Dan sekali lagi, sebagaimana capaian-capaian besar apapun, program besar apapun tidak akan terlaksana bila tidak dibarengi dengan motivasi yang kuat untuk mensukseskan realisasi dari program-program besar itu. Selamat melaksanakan ibadah puasa. Dengan motivasi yang kuat, insyaallah kita bisa merealisasikan nilai taqwa menjadi manusia yang utama.

Assalamualaikum wr.wb

13 Agustus 2009

Wirausahawan sukses

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi. QS Fathir {35}:29

Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia yang memulai karirnya dengan membuka sebuah bisnis makanan dan kini telah merambah seluruh tanah air dengan puluhan outlet dan cabangnya. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, usaha makanan lezat yang ia rintis berkembang dengan begitu menggurita. Masyarakat pun banyak menggandrungi makanan yang disajikan oleh ‘brand’ restoran miliknya.

Suatu saat pernah, beliau menjadi sponsor utama sebuah seminar zakat yang diadakan di kota Medan. Usai menyampaikan materi seminar, para pembicara diajak untuk menikmati santap siang di salah satu restoran milik sang pengusaha.

Ketika santap makan siang berlangsung, salah seorang pembicara menyela dengan sebuah pertanyaan kepada pemilik restoran, "Pak, boleh dong berbagi cerita kiat sukses merintis bisnis kayak begini. Sepertinya bapak gak terlalu lama membangun bisnis ini tapi kok langsung menggurita sampai seluruh tanah air. Apa sih rahasianya?" Sambil tersenyum penuh rasa syukur, pengusaha ini menjawab dengan nada yakin: "Pak Ustadz, sama seperti pengusaha lain, saya merintis ini dengan jatuh-bangun. Namun, sejak saya bertekad untuk menaikan zakat saya hingga 5% dari penghasilan. Subhanallah… Allah berkenan memberikan rezeki yang melimpah kepada saya, keluarga dan semua orang yang terlibat dalam usaha ini." Ia menambahkan, "Saya amat percaya, semakin banyak kita membantu Allah, Dia pun akan lebih banyak lagi akan memberikan balasannya kepada kita. Dan itu telah kami rasakan kebenarannya!"

Allahu Akbar… Allah Maha Besar… Dia mampu untuk memberikan balasan yang begitu berkah bagi hamba-Nya yang mau berniaga kepada-Nya.

Itu cerita dari pulau Sumatera, tepatnya di kota Medan. Lain lagi kisah seorang pengusaha berkah dari Provinsi Jawa Tengah. Banyak usaha yang ia tangani. Mulai dari percetakan, penerbitan, institusi pendidikan, pelayanan haji & umrah, yayasan-yayasan social, dan banyak lagi. Bagi saya, jumlah usaha & kegiatan yang beliau tangani sulit dihitung dengan jari. Terakhir saya dengar, beliau tengah membangun sebuah hotel syariah di bilangan kota yang cukup strategis dengan biaya miliaran rupiah. Hal yang lebih membuat kagum adalah…, semua usaha yang beliau bangun berjalan dengan lancar dan memberi hasil yang tidak sedikit.

Subhanallah…, dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, beliau amat terampil untuk mengelola semua usahanya. Saya penasaran untuk mengetahui rahasia kesuksesan di balik itu semua. Sampai pada akhirnya, salah seorang staffnya bercerita kepada saya bahwa beliau selalu menginfak-an hampir 30% dari penghasilannya di jalan Allah Swt.

Kala krisis moneter, perusahaan percetakan miliknya hampir bangkrut sama seperti usaha yang lain. Sebuah kebijakan yang ia tempuh terdengar aneh saat itu. Para karyawannya yang berjumlah ratusan, tidak ia rumahkan. Bahkan beliau tambahkan gaji mereka. Sehingga membuat karyawan tersebut senang, tidak resah dengan harga bahan pokok yang menggila pada saat itu, dan akhirnya…. mereka pun berdoa untuk kebaikan pemilik usaha. Subhanallah… siapa yang suka memberi, ia pasti akan diberi. Oleh siapa, ya… oleh Sang Maha Pemberi, Al Wahhab!

Perniagaan yang tiada merugi… itulah salah satu jaminan bagi orang yang suka berinfak.

Cobalah simak hadits 567 bab 60 dalam kitab Riyadhus ShalihinI! Di sana Nabi Saw berkisah, ada seorang petani di Madinah… ia berdiri di antara kebun kurmanya yang kering kekurangan air. Pohon tidaklah subur, sementara buah-buahan tidak muncul dengan baik. Ia khawatir, bila kekurangan air maka kebun tidak akan memberi hasil maksimal untuk kebutuhan hidup ia dan keluarga. Ia menengadah ke arah langit. Kedua tangannya, ia angkat setinggi mungkin seraya merapal lafal-lafal doa kepada Allah agar kebunnya diberi air hujan.

Tak lama sejak itu, Allah mengirimkan awan untuk berkumpul. Beriringan sedikit demi sedikit, awan berkumpul dengan cukup lebat di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan. Dalam hatinya, ia berucap… "Allah mengabulkan doa & permintaanku tadi!" Namun sebaliknya yang terjadi. Terdengar olehnya sebuah suara yang berasal dari langit dan berbunyi, "Wahai awan, pergilah ke tanah si Fulan…!"

Maka berjalanlah awan ke arah lain, ke tempat yang tidak diketahui oleh si petani yang baru saja berdoa. Kekesalan membuncah dalam batin sang petani. "Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku?" gumamnya. Ia pun penasaran. Ia berlari dan terus berlari. Mengikuti kemana awan akan berhenti dan menurunkan air yang dikandungnya.

Sampai di suatu tempat yang subur… daunnya rimbun… dan memiliki air yang banyak. Awan pun berhenti dan mencurahkan segala air yang berada di dalam perutnya. Si petani menatap keheranan…, tatkala dilihatnya ada seorang pria bersahaja yang sedang berdoa syukur kepada Tuhan karena telah memberi rahmat pada tanahnya.

Saat itu, si petani memanggil nama si pemilik tanah. Sang pemilik tanah merasa heran lalu bertanya, "Saudara, dari mana Anda tahu namaku?" "Itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya, amalan apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari suara langit yang memerintahkan awan untuk menurunkan hujan di sini…, di tanahmu!" Subhanallah! Bukankah ini sebuah prestasi hebat, hingga membuat nama seseorang disebut di langit?

Si pemilik tanah mencoba menjawab pertanyaan petani, "Saudara, belum ada orang yang aku beritahukan tentang amalan yang aku kerjakan sehingga membuahkan hasil sedemikian. Namun karena engkau telah tahu sebagian rahasia ini… dan juga karena engkau telah menanyakannya, maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi." "Ceritakanlah padaku, wahai Saudara!" gegas si Petani sebab penasaran.

"Rahasianya mungkin adalah…. Setiap kali kebun dan tanah ini memberi hasil, hanya sepertiga darinya yang aku makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan kepada tanah ini sebagai tambahan modal. Lalu sepertiganya lagi, aku berikan kepada Allah Swt sebagai infakku di jalannya. Itulah amalan rutin yang aku kerjakan sehingga membawaku pada hasil yang sedemikian."

Subhanallah….! Pemilik tanah tersebut memberikan sepertiga dari penghasilannya untuk Allah Swt. Tak pelak, Allah Swt pun memuliakannya. Saudaraku…, bila dalam merintis usaha, perniagaan, perdagangan atau apapun yang kita lakukan… bila kita sering mengalami kerugian, kebangkrutan, kredit macet dan lain sebagainya yang dapat membuat usaha kita mengalami kemunduran. Maka…, cobalah resep di atas! Insya Allah, Anda akan merasakan apa yang mereka rasakan, yaitu Perniagaan yang Tiada Merugi
JDisebabkan Infak di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamat Mencoba!


diposting oleh amin nullah