15 September 2009

Surga untuk Suami Saya


Yuli Pujihardi - detikRamadan Ramadan.detik.com


Jakarta -Pagi itu, semua berjalan seperti biasa saja. Semua sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing apalagi hari itu banyak sekali kegiatan yang harus dipersiapkan oleh kami di Dompet Dhuafa.

Namun yang pasti hari itu, saya mendapatkan lagi pelajaran betapa sesungguhnya memberi pelayanan yang terbaik itu berlaku itu semua orang. Tak peduli apakah itu orang kaya, atau orang yang terlihat kaya atau terlihat biasa-biasa saja.

Pertama soal betapa prasangka itu, tidaklah benar. Menyangka ibu tua renta yang datang dengan anaknya itu tadinya adalah orang yang akan meminta bantuan, namun nyatanya ia malah muzakki yang dari dana zakatnya program rumah sehat terpadu kami insyaAllah dapat terwujud.

Kedua, jangan pernah melihat orang dari fisiknya saja. Yang disangka meminta malah membayar. Semoga Allah membuka hati ini terus-menerus untuk dapat menangkap kebaikan. Amin.

Bermula dari datangnya ibu dan anaknya, wajahnya biasa-biasa saja. Bahkan nampak sekali kerut-kerut di wajahnya membuat ia tampak semakin tua dan lelah saja. Ia datang untuk meminta penjelasan tentang program rumah sehat terpadu yang rencananya kami bangun di depan sekolah unggul bebas biaya di Parung, Bogor.

”Boleh, saya mendapatkan infomasi tentang Rumah Sehat Terpadu,” tanyanya perlahan.

”Boleh Ibu, informasi apa yang ingin Ibu dapatkan. Rumah Sakit itu sengaja kami beri nama Rumah Sehat, karena kami ingin agar mereka yang datang mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sehat tersebut menjadi sehat. Sementara kata terpadu dikarenakan di lokasi itu nantinya akan terintregasikan seluruh program-program pendidikan, kesehatan, ekonomi, yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Semuanya kami berikan gratis. Bahkan kami berencana membangun masjid kaca” ujar Herdi, amil Dompet Dhuafa.

”Siapa saja yang boleh mendapatkan layanan kesehatan gratsis itu?” tanyanya lagi.

Kami semua menyangka bahwa ibu tua itu mengharapkan bantuan untuk mendapatkan layanan kesehatan cuma-cuma itu. Ternyata tidak. Ia hanya ingin memastikan lagi bahwa dana zakat yang diserahkan oleh para muzakki ke Dompet Dhuafa itu memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.

”Ok Nak Herdi, saya ingin membayarkan zakat saya, di mana lokasi Bank Mandiri terdekat di sini? Bila sudah transfer saya akan kabari Nak Herdi.".

Herdi terhenyak kaget, dan semakin kaget lagi begitu ia ingin segera membayarkan zakat tanpa menunda waktu.

”Bank Mandiri tak jauh dari sini Ibu. Saya bisa antarkan.”

”Tak usah, nanti saja bila sudah saya tranfer saya akan kembali untuk dapatkan bukti setor zakatnya. Tolong berikan no rekening Dompet Dhuafa di Bank Mandiri.”

Herdi pun sibuk mencari no rekening Dompet Dhuafa di Bank Mandiri. Padahal nomor itu ada di brosur DD, tapi seolah tak ada. Jadi sulit untuk dicari. Sampai menjumpai no rekening nya. ”Ahh ini nomor nya Bu..!"

”Saya minta izin dahulu nanti saya kembali lagi bila sudah mentransfer”.

Belum lagi 5 menit handphone Herdi pun, berdering. ”Bisa di cek ke rekening Dompet Dhuafa, saya baru saja mentransfer Rp 150 juta,” suara dibalik telepon itu terdengar agak samar.

”Mohon maaf Ibu, berapa yang Ibu transfer nanti akan kami cek segera ke Bank Mandiri.”

”Rp 150 juta, Mas,” ujar ibu itu.

Masya Allah sebanyak itu, Alhamdulillah ya Allah, semoga Allah memberikan kemuliaan pada Ibu itu.

”Sebentar itu kami akan cek, Mbak Endang tolong di cek di Bank Mandiri, apakah sudah masuk transfer sebesar Rp 150 juta untuk Rumah Sehat Terpadu.”

”Sudah Mas,” sahut Endang dari balik ruangan.

”Alhamdulillah Ibu, sudah masuk ke rekening kami.”

Hmm Luar biasa, lihatlah katanya-katanya, ”Saya bayarkan zakat ini untuk suami saya yang telah wafat. Saya berharap zakat yang saya tunaikan ini, memudahkan jalan bagi ia menuju surga, seperti yang selama ini diharapkannya.”

”Amin Ibu, kami berdoa semoga almarhum mendapatkan tempat yang mulia dan tinggi atas zakat yang Ibu tunaikan hari ini. Semoga Allah memberikan pahala atas harta yang telah diberikan dan menjadikan suci serta keberkahan atas harta Ibu yang tersisa.”

”Amin”

Pembaca detikRamadan yang mulia, kisah ini membuat saya harus sering berdoa semoga saya bisa seikhlas mereka dalam sedekah dan belajar juga untuk menjauhkan diri dari prasangka. Sambil terus mendoakan para muzakki agar doa dan harapannya segera terwujud.

*) Yuli Pujihardi adalah Corporate Secretary & Resources Mobilization Director Dompet Dhuafa

Ucapan Selamat Idul Fitri


Sebening air, sekuat jasmani, setulus hati mengharap ridho ilahi...Sambut bulan yang dinanti ramadhan nan suci dari insan yang lemah ini. Maaf lahir bathin atas segala kehilafan.

Tiada ketenangan selain Zikrullah, tiada amal tanpa keikhlasan kepada Allah SWT, tida keampunan Allah SWT tanpa maaf dari sesame, diujung bulan yang fitri penuh berkah dan ampunan ini, kami mohon maaf lahir dan bathin.

Ya... Allah jadikan yang tebal itu iman, yang tipis itu lisan, yang tajam itu akal, yang lembut itu hati, yang ringan itu sholat, yang luas itu ilmu dan yang banyak itu amal, IED MUBAROK, mohon maaf lahir dan bathin.

Sepuluh jari tersusun rapi, bunga melati pengharum hati, SMS dikirim pengganti diri, mohon maaf setulus hati, Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir & Bathin...

Setulus pancaran mentari pagi, mari kita sucikan hati, wujudkan dalam diri dengan silaturahmi “ Taqobbalallahu minna waminkum” mohon maaf lahir dan bathin...

Wishing you the spirit of forgiveness, the light of faith, the warmth of home, the love of family and all the deepest joys of Eid taqobbalallahu minna waminkum, Mohon maaf lahir dan bathin...

Setelah takbir habis... ketupat & rending dicicipi.... dengan seiring waktu yang berjalan... meski raga tak bisa bertemu... tangan tak sempat berjabat tangan dan wajahpun tak dapat bertatap... hanya katalah yang dapat terucap disaat menjelang hari kemenangan yang penuh rahmat dan berkah ini tiba...Minal a’izin Wal Faizin... Mohon Maaf Lahir dan Bathi...n

Terselip khilaf dalam canda,.......

tergores luka dalam tawa............

Terbesit pilu dalam tingkah laku,....

Tersinggung rasa dalam bicara.........

Kami sekeluarga mengucapkan Minala’idin wal faizin....

SPIRIT OF THE DAY

Aku meminta setangkai bunga segar.....

Allah beri aku kaktus berduri....

Aku meminta kepada Allah binatang mungil cantik...

Allah beri aku ulat berbulu....

Aku sedih, protes dan kecewa....

Betapa tidak adilnya Allah....

Namun kemudian....

Kaktus itu berbunga indah bahkan sangat indah...

Dan ulat itupun tumbuh & dan berubah menjadi kupu2 yang amat cantik...

Itulah jalan Allah..... indah pada waktunya....

Allah tidak memberi apa yang kita harapkan... tapi Allah memberi apa yang kita perlukan...

Kadang kita sedih, kecewa, terluka.....

Tapi jauh diatas segalanya, Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan manusia...

Allahu Akbar...!

Semoga kita termasuk kedalam golongan orang2 yang pandai bersyukur atas karunia & nikmat Allah SWT.... AMI...N..